Menambah Distraction




Gatau ada yang sadar juga nggak, dipikir-pikir kita ini setiap hari kerjaannya nambahin distraction. Nggak heran kalo overthinking. Karena seakan overthinking itu sudah jadi achievement dan kebanggaan tersendiri untuk ditulis di bio.

Setiap kita scrolling, kerasa dapet dopamine-nya. Wih seru, hal baru, update baru soal temen lama yang nggak kontak dan ketemu. Rilisan apalagi nih yang baru, ada apa yang baru untuk dipelajari, algoritma baru mungkin? Teknik baru mungkin? Kompetitor lagi apa nih. Mau sekedar scrolling nggak ada tujuan sampai yang bertujuan, bisa jadi distraction kalo kita cuma fokus input tapi nggak ada output.

Nggak akan jadi orang yang #KaryaRaya atau lebih lagi generasi dan bangsa yang begitu. Akun Instagram @andrewnulis itu dimulai sebagai bentuk protes ke diri sendiri, masa sih berkarya harus sesusah dan seideal itu baru bisa jalan? Karena saya mengakui, saya sendiri ya idealisnya ampun-ampun, lahir dari keluarga yang mendidik kalau bisa ya perfect sempurna. Ada suatu standard tidak terlihat tapi sudah tinggi dari sananya, baik ke diri sendiri atau orang lain.

Kembali. Ternyata nulis itu sekedar kertas kosong dan spidol atau bolpoin sudah cukup. Saya selalu bilang, kalo bisa ngomong ya bisa nulis. Bedanya satu didengar dan satunya bisa dibaca. Banyak yang takut menulis karena: nggak tau apa yang mau ditulis, nggak menarik untuk ditulis atau masalah menulis yang baik dan benar.

Soal yang baik dan benar, itu baru bisa dilatih ketika sudah ada yang ditulis dan bisa dievaluasi. Kalo soal nggak tau mau nulis apa dan apakah bisa menarik, itu gampang. Katanya bangga overthinking, coba ditulis dulu. Pasti nggak jadi seseru itu, nggak seribet itu ternyata pikiran kita. Menulis itu seperti terapi, memberikan struktur dalam berpikir dan menjernihkan apa yang seakan kacau.

Kalau nggak menarik? Kita berkarya sebelum untuk orang lain, berkaryalah untuk diri kita sendiri. Ibarat menolong diri sendiri dulu lah. Sebelum lupa, menulis itu dua sisi koin yang sama dengan membaca. Tidak bisa dipisahkan, misal sudah kita tulis pikiran yang bikin sumpek. Coba dibaca lagi tulisan itu, akan merangsang pikiran kita untuk menemukan solusi. Seolah kita membaca keluh-kesah orang lain (kan seringkali kita paling jago juga memberikan solusi untuk hal yang nggak kita mengerti ke orang lain). Jadi dipakai bakatnya ditempat yang tepat.

Nanti setelah berlatih, baru kita semakin cinta dan ingin membagikan rasa itu ke orang lain.

Nggak kerasa sudah menulis panjang, akhirnya bisa nambah distraction lagi. Yang lama sudah ke-flush langsung begitu habis nulis. Hahaha.

Comments

Popular posts from this blog

Breaking the Mold

Thinking out loud