Digigit Serangga
Ada berita duka dari kenalan orang tua, yang temannya meninggal karena digigit serangga. Singkat ceritanya karena tidak ditangani, dibiarkan bertahun-tahun dan ternyata tidak compatible dengan mungkin hormon di dalam tubuh yang sudah wafat.
Sesuatu yang menggelitik ketika akibatnya bisa begitu fatal, dari sesuatu yang begitu kecil, yang dibiarkan begitu lama untuk kehidupan kita. Siapa sih yang tahu kalau racun atau zat dari gigitan serangga itu tidak compatible dengan hormon di dalam tubuh kita. Mungkin memicu suatu penyakit yang akhirnya berakibat fatal.
Bukannya tubuh kita ini punya self defense mechanism alami ya? Bisa membasmi kuman dan virus yang masuk, intruder alert gitu.
Tanpa sadar kita seringkali punya pola yang sama, hal kecil, dibiarkan begitu lama, ternyata tidak cocok dengan identitas diri kita yang asli, berdampak fatal. Bisa saja dari kebiasaan kecil yang buruk, sebut saja malas. Mau berkarya kan harus lengkap peralatannya, belajarnya harus lama, udah banyak lah yang lebih keren dan duluan, emang bisa dapat apa, nanti orang bilang apa, apakah ada yang menikmati nanti?
Ibarat itu racun atau zat yang sangat kecil tapi mematikan karena tidak compatible/cocok dengan identitas diri kita yang asli. Atau ekstrimnya tidak cocok dengan desain awal kita. Secara pribadi saya percaya setiap kita diberikan kemampuan berkarya, dan itu yang membedakan kita dengan ciptaan lain (salah satunya). Jadi seharusnya ya sangat alami dan wajar untuk kita berkarya, memulai berkarya. Bukan malah karena racun atau zat kecil itu mematikan.
Ada dua pesan yang sangat resonate di hati dan saya berusaha untuk terus mengingatkan diri sendiri, bagaimana kita menjadi orang, generasi atau satu waktu bangsa yang #KaryaRaya dengan #KembaliJinak; Kembali Jadi Anak Kecil. Nanti saya cerita lebih detail di lain tulisan untuk ini.
Comments
Post a Comment