Disiplin Istirahat

Barusan habis ngobrol sama pegawai yang kemarin habis saya tanya kenapa kok seminggu ini datang telat terus. Karena memang biasanya selalu datang lebih pagi sempat ngopi di warung depan. Singkat cerita karena dia selain diminta mengajar mengaji untuk anak-anak disana, sekarang diminta membantu memberi konseling beberapa pemuda yang bermasalah. Berhubung konseling itu nggak bisa dikunci waktunya (kalau urusan hidup dan transformasi hatinya orang itu harus mengalir). Jadi ya kurang istirahat dan merembet.

Jujur saya paham, karena pernah diposisi yang sama. Soal urusan melayani dan membentuk orang itu tidak semudah masak indomie yang sudah jelas step by stepnya. Kalau bahasa pegawai saya, ngajar orang pakai obeng dan sketmat itu beda. Kalau obeng paling nggak instingnya ngerti, tinggal diputar. Kalau belajar ngukur pakai sketmat kan mesti pakai otak ya. Belajar menghitung dan membaca. Apalagi soal mengubah kehidupan seseorang yang bermasalah.

Saya cuma bilang, orang itu rejeki loh. Kalau orangnya datang membantu kita, sesuai dengan rejeki kita. Itu rejeki. Tapi kalau orangnya datang dengan masalah, itu rejekinya double. Karena kita belajar dan mungkin berkesempatan menjadi bagian dan melihat perubahan itu dalam hidup mereka. Dan itu priceless.

Ya karena dia pegawai yang sangat bertanggung jawab, dia bertanya apa konsekuensinya terlambat dan dia siap menerima. Singkat cerita lagi, bukan soal penalti. Ini gimana cara kita membaca pakai hati, we are still dealing with people. Nggak ada teori atau SOP-nya dalam kasus ini.

Di luar sana, banyak orang yang malas dan harus belajar disiplin untuk bekerja. Tapi tidak kalah banyaknya, ada orang yang gila bekerja dan harus belajar beristirahat. Spontan pegawai saya tertawa, mana ada perusahaan mengajarkan kita disiplin istirahat. Ya lihat-lihat orangnya ya kalau saya.

Akhirnya dia paham, waktu jam istirahat siang (biasanya dia kalau lagi padat ya kerja terus) harus digunakan untuk makan dan kalau memang bisa ya rebahan istirahat. Untuk orang yang gila kerja, disuruh istirahat itu buang waktu. Mending segera dikerjakan, biar bisa istirahat. Tapi hari seperti itu sebenarnya tidak pernah datang, seolah saja akan datang.

Dia pun senang, karena kita bisa punya obrolan seperti ini. Saya pun senang bisa bonding, karena lagi-lagi ini priceless dampaknya kedepan. Dia menutup dengan membahas soal keseimbangan. Ya nggak bisa saya terima semua ya, kalo berujung ke yang hancur fisik saya juga. Kan kita harus punya tanggung jawab, meskipun soal hidup gimana mau dikontrol. Ada yang datang tiba-tiba, juga pergi tiba-tiba. Berharapnya sih diajarin sekali, pemuda itu bisa langsung mengerti dan berubah.

Tapi itulah manusia, bicara soal hati dan kehidupan. Ingin sebuah perubahan, kadang tidak tahu mulai darimana. Mungkin harus mulai belajar, dengan disiplin istirahat. Biar ada waktu untuk berbicara dengan diri sendiri dan Tuhan. Sesimpel biar punya kesadaran.

Sekian.



Comments

Popular posts from this blog

Breaking the Mold

Thinking out loud

Menambah Distraction