FOMO Buying

Pasti kita pernah ingin punya sesuatu karena FOMO (fear of missing out), takut ketinggalan trend kalau nggak punya. Apapun jenis barangnya, mau itu baju, sneaker, peralatan dapur, gadget, sampai buku. Pengalaman yang paling baru ini soal buku-buku anak. Ditambah lagi ada event Big Bad Wolf yang sudah kembali diadakan offline. Mengingat terakhir kesana sebelum pandemi, dan berkesempatan hunting buku yang udah diincar dari lama (buku-buku luar kan harganya mahal). Disini bisa harga miring bawah 100rb rupiah saja.

Fast-forward ke setelah pandemi, setelah married dan akan punya anak. Semua fokus mulai bergeser ke persiapan pertumbuhan anak. Kami yang berpendapat dan bereksperimen juga soal: anak itu nggak harus gadget melulu. Bisa digantikan dengan buku, tapi jauh sebelum itu harus dibuat suka membaca dulu. Bagaimana caranya ya? Tahan dulu.

Kembali ke FOMO Buying. Kagetnya, di BBW tahun ini, bisa dibilang 3/4 hall segitu besar (di Jatim Expo Surabaya; kurang lebih seluas 3000m2 mungkin) hanya diisi oleh buku balita dan anak. Kalau terakhir kesana masih bisa tuh dapat buku desain, biografi, pengembangan diri, bisnis, teknologi sampai buku-buku cantik penghias meja dan dinding lah. Ya nanti belum tentu kebaca tapi keren aja kalo punya.

Kita juga belajar dari pengalaman sebelumnya, ambil dulu masukin troli. Nanti sebelum ke kasir sortir lagi biar nggak kalap habis banyak. Kan percuma buku murah tapi beli banyak ya juga pemborosan kalau nggak dibaca.

Fenomena belanja karena FOMO ini sangat umum, di era yang serba cepat, banjir pilihan bagus, bukan pilihan yang buruk ya. Semua bisa diakses modal wifi, smartphone dan jempol + mbanking. Semua seolah terjebak ke pola yang sama, bingung milih yang mana. Seakan semua baik, bagus dan benar.

Akhirnya saya menarik mundur, kalau mendidik anak sebelum soal buku. Adalah soal kesiapan kita mau mengajarkan dan spend time untuk membacakan.

Ditarik mundur lagi, kalau masih sangat kecil kan belum bisa baca? Berarti yang mereka bisa hanya melihat visual ya. Dari sini dapat kesimpulan pertama: Berarti kita pilih buku-buku yang secara visual bisa memperkaya dan menarik perhatian (demi membangun kebiasaan membaca dulu). Selain itu fokus mengenalkan ke bentuk-bentuk dasar dulu saja. Bentuk geometri, angka dan huruf. Baru setelah itu bisa belajar membaca.

Kesimpulan kedua adalah sepakat untuk memilih buku cerita. Kembali lagi karena belum bisa baca berarti belajarnya dengan mendengar dulu kan. Sekalian bonding. Lanjut ke pemilihan bahasa, bahasa Inggris atau Indonesia? Sudah pasti harus bahasa Indonesia kan, sehari-hari komunikasi pakai bahasa kita sendiri. Kalau dari kecil belajarnya campur-campur pasti bingung dan mungkin bisa memperlambat juga ya?

Singkat cerita akhirnya kita bisa memangkas pilihan dari ribuan buku menjadi beberapa buku saja yang masuk kriteria. Dari tahap ini baru idealisme sebagai orang tua desainer memilih buku-buku yang menarik mata kami juga. Biar waktu menemani dan membacakan nggak sakit mata.

Cerita yang niatnya pendek jadi panjang. Tapi dalam kejadian kita pingin belanja karena FOMO, akan ada satu ketika kita juga bingung memilih (analysis paralysis). Kemampuan yang kita butuhkan itu adalah soal memangkas dan mengurangi. Bukan soal kita menambah opsi dan distraksi terus. Belakangan ini yang saya lihat, banyak yang jadi susah memutuskan. Tidak memutuskan atau belum memutuskan itu sama saja,, bisa merugikan.

Comments

Popular posts from this blog

Breaking the Mold

Thinking out loud

Menambah Distraction